Wisata Aceh, Unforgettable Journey to Breueh Island- Siang itu
tanggal 5 Mei 2016 setelah selesai Shalat Dzuhur buru-buru kuambil ransel,
pelampung, dan alat snorkeling yang sudah tersusun rapi di atas meja kerja,
lalu menuju ke dermaga agar tidak tertinggal kapal. Tour kali ini akan dimulai
lagi dan destinasinya adalah Pulo Breuh yang merupakan gugusan Pulo Aceh di
Aceh Besar, setelah sebelumnya melalak ke Malaysia dan Singapore dari tanggal
28-3 Mei 2016.
 |
| taken by: pocket tour |
Inilah asiknya
melakukan pekerjaan sebagai seorang tour planner. Kerjanya ya jalan-jalan, bawa
tamu, buatin jadwal untuk tamu yang mau jalan-jalan.
Tapi dibalik itu semua
sebuah pelajaran yang selalu kudapatkan dalam setiap perjalanan adalah harus
terciptanya sebuah Kepercayaan, mau
kemanapun kita pergi kalau tidak ada rasa percaya terhadap teman seperjalanan,
hasilnya perjalanan tidak akan semenarik seperti di film “Journey 2: The
Mysterious Island” (oke yang ini lebay, karena gak bakal ada komodo raksasa
diperjalanan kami).
 |
| Gugusan Pulau ketika perjalanan - pocket tour |
ketika
menginjakkan kaki dipelabuhan Peunayong (dermaga untuk kapal ikan) dan menuju
kapal, timbul rasa ragu yang begitu mengganggu langkah, akankah perjalanan kali
ini sama seperti perjalanan ke Pulau Nasi? Akankah kapal harus melarikan diri
dari kejaran ombak yang setinggi pohon kelapa itu? namun keraguan itu
cepat-cepat kutepis ketika melihat alur sungai yang tenang.
Dalam perjalanan
ini yang ikut ada sekitar 30 orang, kami melakukan tour dengan membawa misi
sosial, ya misi yang sangat sederhana namun harapannya misi itu dapat
bermanfaat. Kami berencana membagi-bagikan buku kepada anak-anak sekolah dari
jenjang SD sampai SMP.
 |
| gugusan pulau-pulau di Aceh- taken by : pocket tour |
Kapal sudah
melaju meninggalkan alur sungai menuju laut lepas, rasa khawatir muncul,
jantung berdegup kencang, lebih kencang daripada ketika ketahuan tidak buat PR
dan dihukum di panas matahari. Sepuluh menit pertama rasa was-was selalu
mengikuti sampai-sampai pelampung pun tak lepas dari genggaman. Setelah melihat
suasana sekitar aman dan tak ada ombak-ombak besar menghantam kapal, akhirnya
kuberanikan diri menuju keluar dari ruangan khusus penumpang yang memang telah
didesain tersebut menuju bagian depan kapal.
 |
| taken by: pocket tour |
Bagiku laut
punya misterinya sendiri yang tak dapat diungkapkan, entah karena kebetulan
atau memang pancaran ketakutanku yang dipantulkan semesta, tak lama kemudian
terlihat sekawanan lumba-lumba sedang menari bebas mengiringi kapal dari
kejauhan, rasa takjub kembali mengambil alih rasa takut yang sedari tadi masih
bersemayam dipikiranku.
 |
| taken by: pocket tour |
Jajaran
pulau-pulau tanpa penghuni memanjakan mataku dalam perjalanan kali ini, ada
yang namanya pulau batee, pulau tengkorak yang memang bentuknya seperti
tengkorak hewan-hewan purba, dan ada juga pulau yang berbentuk seperti penyu,
menambah rasa kagumku kepada Sang Pencipta. “Nikmat Tuhan-Mu yang mana lagi
yang kau dustakan?” potongan ayat Al-Quran dari surah Ar-rahman itu berulang
kali kuucapkan dalam hati sebagai rasa syukur terhadap Sang Maestro kehidupan
karena telah menggerakkan kaki ku untuk melangkah ke tempat-tempat yang
sempurna ini.
 |
| penampakan sekitar Pelabuhan Meulingge - taken by: pocket tour |
Kapal telah
merapatkan diri di pelabuhan Meulingge, Pulo Breuh. Setelah menempuh waktu
sekitar 3,5 jam akhirnya kami sampai. Langsung kami menuju rumah warga yang
menyewakan rumah kosongnya untuk tempat kami berteduh beberapa hari di Pulau,
dan sebagian akan tidur di warung pinggir pantai karena mereka membawa hammock.
Kebersamaan
sangat terasa malam itu, karena peserta tour saling membantu dalam memasak, dan
aku juga ikut membantu memakan masakan mereka. Malam itu tak ada angin yang
berhembus, membuat tubuh terasa gerah. Tapi suasana sunyi mampu menenangkan
pikiran sejenak, tidak ada sinyal disini, tidak ada suara berisik notifikasi
dari sosial media yang terdengar, semua terasa begitu tenang, hening. Beberapa dari
kami berjalan ke warung dekat tepi pantai untuk merasakan suasana malam di
Pulau ini, Sebelum akhirnya semua kembali ke penginapan dan istirahat untuk
mengumpulkan energi agar bisa beraktifitas esok hari.
***
Di pulau ini
tidak ada hotel-hotel mewah yang berjejer seperti di Pulau-pulau lain, disini
kita biasa menginap di rumah warga, dan harus mengantri apabila ingin ke kamar
mandi, atau kalau mau lebih alami bisa mandi di sumur tua yang hanya ditutupi
semak belukar. Dalam perjalanan ini banyak hal baru yang kita dapatkan sebagai referensi dalam
melakukan proses kehidupan.
 |
| perjalanan menuju Rinon untuk pembagian buku dengan menyewa mobil pick up - taken by: unknown |
Setelah dipastikan semua peserta tour sudah
mandi dan makan, selanjutnya agenda membagi-bagikan buku dimulai. Tujuan kita
kali ini adalah Desa Rinon. Berhubung hari jumat itu libur, kita melakukan
koordinasi dengan aparat kampong dan akhirnya mereka mengarahkan untuk bertemu
langsung dengan wakil kepala sekolah SD di Desa tersebut.
 |
| pembagian buku kepada beberapa anak sekolah - taken by: pocket tour |
 |
| Plank ajaib yang bisa dibawa kemana-mana - taken by : Ahmad Zaki |
Sorenya rasa
penasaranku untuk merasakan sentuhan air laut di Pulau ini sudah tak terbendung
lagi, setelah memastikan perlengkapan snorkeling dan camera underwater lengkap akhirnya kami menuju pantai meulingge dan
menikmati keindahan lautnya.
 |
| Pantai Meulingge - taken by: Fauca K. Ramadhan |
Seperti kehilangan
kata, tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir ini untuk dapat
menggambarkan keindahan bawah lautnya. Lagi-lagi aku mencoba memastikan bahwa
ini bukan mimpi. Seperti terhipnotis dan waktu terasa begitu cepat berputar,
tiba-tiba hari sudah menjelang magrib saja. Akhirnya kami balik lagi ke
penginapan.
***
Hari ketiga di
Pulo breuh akan kami habiskan dengan melakukan perjalanan ke Mercusuar Willem Toren
III, konon mercusuar ini hanya ada tiga di Dunia yaitu Di Belanda, Kepulauan
Karibia (tempatnya Jack Sparrow sering mangkal), dan Di Pulau Breuh-Aceh.
Menara berbentuk bundar setinggi 85 meter ini dibangun oleh Belanda pada tahun
1875 sebagai penghormatan kepada Raja Willem Alexander Paul frederik Lodewijk,
penguasa Luxemburg masa itu karena giat membangun Infrastruktur di Wilayah
Hindia Belanda, termasuk Aceh.
 |
| istirahat sesaat, berhubung ada sinyal telponan dulu - taken by : Ahmad Zaki |
 |
| perjalanan menuju mercusuar - taken by : Ahmad Zaki |
Untuk mencapai kesana kita harus melewati 2
jam berjalan kaki atau 1 jam dengan mengendarai motor (tidak disarankan bagi
yang baru pertama kali kemari). Untuk mencapai menara ini tantangan demi
tantangan akan kita lalui. Kita harus melalui semak belukar dengan jalanan yang
berbatu dan melewati tanjakan 45 derajat yang membuat jantung berdetak kencang,
melewati turunan terjal, serta mendengar suara hewan-hewan hutan yang saling
bersautan, menambah suasana mistis perjalanan ini. Harus ekstra konsentrasi
menuju kesana karena bila salah langkah, kita bisa terpeleset dan terjun ke
Jurang.
 |
| Pintu gerbang komplek mercusuar - taken by : Ahmad Zaki |
Perjalanan
panjang pun terlampaui, setelah disambut oleh pintu gerbang setinggi 3 meter,
akhirnya kami memasuki komplek mercusuar.
 |
| bekas penjara - taken by : pocket tour |
Langsung menari-nari
didalam pikiranku peristiwa berabad tahun silam, ketika Aceh sedang dalam
suasana perang melawan Belanda. Tak jauh dari mercusuar juga terdapat bekas
penjara yang tak lagi berfungsi, semua hal tersebut memperkuat pesona pulau
ini.
 |
| Mercusuar Willem Toren yang menjulang tinggi : taken by : pocket tour |
Setelah istirahat
sejenak dan memastikan detak jantung sudah kembali normal, akhirnya kami
mencoba menaiki ratusan anak tangga mercusuar ini. Mercusuar yang menjulang
tinggi ke langit ini memiliki 8 lantai dan masing-masing lantainya mempunyai
tempat yang cukup luas untuk beristirahat sejenak agar dapat melanjutkan ke
tingkat selanjutnya.
Sampailah di tingkat
tertinggi menara ini, seketika kaki mulai gemetaran, ya.. inilah nasib
seseorang yang mempunyai phobia terhadap ketinggian, tapi lagi-lagi rasa
penasaran mengalahkan rasa takut ku, begitulah caraku membalikkan keadaan yang
buruk (menurutku) menjadi normal kembali. Dari atas sini tampak Pulau Rondo
yang hanya segaris, ombak yang menerjang buas tebing-tebing sekitar, dan tampak
pula kapal nelayan yang berputar-putar karena terjebak di pusaran air tersebut.
 |
| setelah menenangkan diri - taken by: Ahmad Zaki |
 |
| puncak Willem Toren : taken by : Bang Munzir |
 |
| pocket tour menjejakkan kaki di Willem Toren - photo by: Ahmad Zaki |
Dari atas sini
semua tampak kecil namun jelas, sama seperti masalahku yang langsung memudar
ketika sampai di puncak menara ini, bagiku tak ada yang sanggup menciptakan
mahakarya seindah ini tanpa sentuhan Sang Pencipta kehidupan. Dia yang
menciptakan semua yang kosong menjadi dimensi-dimensi yang mempunyai makna.
Satu hal yang
menarik dari cerita penjaga mercusuar adalah, di komplek ini masih sering
terjadi “aktivitas” dari tentara-tertara Belanda terdahulu, bagi yang ingin menguji
nyali silahkan bermalam disini.
 |
| bawah laut ujung peneung - Taken by: Fauca K. Ramadhan |
 |
| bawah laut ujung peneung - Taken by: Fauca K. Ramadhan |
 |
| bawah laut ujung peneung - Taken by: Fauca K. Ramadhan |
***
Sampailah pada
hari terakhir aku menapakkan kaki di Pulau eksotis ini, rasanya tak ingin
kembali lagi ke Kota ku, mendengar hiruk-pikuk kendaraan bermotor, dan suasana
kota yang sering mati lampu, ohh.. what a “perfect” country!
Bagi seorang
yang introvert sepertiku, keadaan sunyi dengan suara nyanyian binatang malam
sudah cukup membuat semua terasa lebih hidup, namun setumpuk tanggungjawab yang
harus diselesaikan memaksaku untuk kembali
ke Kota.
 |
| balik ke kota ku - taken by: Ahmad Zaki |
Ditemani oleh gugusan
pulau dan diiringi lagu “Indonesia Pusaka” yang kami nyanyikan diatas kapal,
menambah kesempurnaan perjalanan kali ini. Semua akan tampak selalu indah bila
tidak tersentuh tangan-tangan jahil yang akan merusaknya.
 |
| ada sensasi berbeda ketika duduk disini - taken by: Ahmad Zaki |
Banda Aceh, 24 Mei
2016
Pocket Tour and Travel
Mobile/Wa : 082362235158
Email: pockettourtravel@gmail.com
fanpage pocket tour and travel