Wisata Aceh, Antara Misteri dan Rasa Takjub Tercipta di Pulau Nasi- Serasa tak percaya, mimpi yang
terpendam sejak lama akhirnya terkabul jua. Suatu kebanggan bagi saya dapat
menjejakkan kaki di Pulau ini. Pulau yang menjadi perbincangan orang
akhir-akhir ini, Pulau yang penuh dengan kejutan. Pulau ini bernama Pulau Nasi,
Pulau yang terletak di sebelah barat Pulau Weh. Memiliki lima desa dan dapat
dikelilingi dalam waktu satu hari. Di Pulau ini banyak harapan yang sengaja
saya tinggalkan agar suatu hari kelak dapat kemari lagi dan mewujudkan satu per
satu harapan yang tertinggal itu.
Awalnya keraguan menghampiri,
bertepatan dengan hari keberangkatan cuaca lagi sangat tidak mendukung, karena
saat itu masih musim angin Timur, yang berarti angin akan berhembus kencang ke
pantai-pantai di daerah Timur, yang menyebabkan ombak akan berkejaran liar.
Namun tekad yang sudah bulat mampu mengalahkan keraguan itu, alhasil tepat 6
Februari 2016 itu saya menjadi saksi ke-liaran ombak-ombak tersebut, dengan
menumpang kapal nelayan yang sudah dimodifikasi menjadi kapal penumpang.
Teman perjalanan saat itu ada 8
orang : Putri, Jol, Bang Ucok, Awi, Bang Khairil, Arga, Kemal dan Aulia. Awalnya
kami masih bisa bercanda, dan antusiasme untuk segera sampai serta menikmati
keindahan pulau itu sangat tinggi, sampai kami dikejutkan dengan ombak yang
begitu besar dan berhasil membuat saya menjadi mayat hidup selama beberapa
menit. Satu hal yang terlintas saat itu adalah memakai pelampung dan memasrahkan
diri kepada Sang Pencipta.
Waktu tempuh dari Banda Aceh ke
Pulau Nasi saat itu diperkirakan sekitar 1 jam 45 menit karena ombaknya
(menurut saya) begitu besar. Setibanya kami di Pelabuhan Deudap Pulau Nasi,
kekhawatiran itu saya ceritakan kepada penumpang lainnya. Ironinya dia Cuma
berkata “ohh… itu masih biasa, kapal kita masih ikutin alur tadi, bukan
menerjang ombak”. Lagi-lagi saya terdiam dan merasa konyol.
Setelah membayar ongkos kapal dan
ongkos angkut motor, kami langsung menemui kepala Desa untuk melapor, lalu
menuju rumah warga yang disewakan untuk kami menginap. Pada saat itu tebengan yang
asik adalah motor gede-nya Bang Khairil.
Di dalam tim jalan-jalan kali ini
hanya 2 orang perempuan yang ikut dan laki-lakinya ada 7 orang, karena kami
sangat menjunjung tinggi kearifan lokal, akhirnya yang perempuan menginap di
rumah Kak Ti (warga setempat), dan yang laki-laki menyewa satu rumah kosong. Di
Pulau ini sangat kental rasa kekeluargaan dan tampak jelas keramahan yang tulus
terpancar dari air muka warga setempat.
Setelah berkemas dan meletakkan
barang, kami memutuskan untuk jalan-jalan dengan harapan bisa melihat matahari
terbenam. Kesan pertama terhadap Pulau Nasi awalnya biasa saja, dengan kondisi
jalannya yang meliuk-liuk dan sekelilingnya yang memang terpampang suguhan
pantai yang disamarkan oleh belukar. Tidak ada yang istimewa sepertinya.
Namun, langkah kaki sempat
terhenti, dan saat itu tidak ada kata-kata yang dapat mewakili kekaguman ini, seperti
terhipnotis ketika tiba di Ujung Umpe (turunan dari mercusuar), dengan
suguhan daratan hijau yang agak menurun
dipagari dengan batu-batu karang yang menjulang tinggi, dan disuguhi dengan
hamparan laut nan biru yang mengelilingi, tak hentinya ucapan syukur dipersembahkan
kepada Sang Pencipta terhadap Maha Karya yang sempurna ini. Seakan semua
ketakutan yang masih tersisa karena perjalanan menegangkan tadi, seketika sirna
berganti dengan rasa takjub yang tak dapat diutarakan. Tak ingin kehilangan
kesempatan, saya telusuri inchi demi inchi tempat tersebut dengan rasa kagum
yang luar biasa, tak saya pedulikan teman yang lain sedang asik berfoto, karena
saat itu saya merasa masuk ke dalam
suatu dunia berbeda. Saya lebih senang menikmati kesendirian daripada
mengabadikan momen dengan selembar foto yang akan pudar oleh waktu. Walaupun
tidak dipungkiri saya sempat mengabadikan beberapa foto.
![]() | |||
| Sumpah.. ini bukan mau bunuh diri. photo by : ucok silampung |
Matahari telah terlelap sementara, digantikan oleh bulan
yang menyendiri malam itu. Setelah makan malam, kami lanjutkan untuk
mengeksplorasi pulau tersebut. Akhirnya motorpun dicagakkan di Desa Lamteng,
dan sejenak menikmati belaian angin malam di salah satu warung di Desa itu.
Belaian lembut angin malam mampu mencegah langkah kami yang enggan untuk balik
ke penginapan, namun karena malam semakin larut akhirnya kami memutuskan
pulang.
***
Selepas subuh kami lanjutkan untuk mengeksplorasi
bagian-bagian pulau yang belum sempat tersentuh kemarin. Setelah memastikan
tidak dapat melihat matahari terbit karena mendung, kami memutuskan untuk
mencari spot snorkeling. Dengan sedikit melewati semak belukar sampailah kami
di pantai pasie raya. Tidak terlalu nyaman memang
snorkeling disana saat itu karena sedang musim angin timur yang membuat ombak
berkali-kali menghantam tubuh saya, tapi hantaman itu tidak ada apa-apanya
dibandingkan dengan keindahan bawah laut yang disuguhkan. Sekitar satu jam
snorkeling kami balik ke penginapan untuk sarapan dan ganti pakaian, jarak dari
spot snorkeling ke penginapan dengan menggunakan motor kurang lebih tiga menit
saja.
Setelah energi tubuh terisi
penuh, perjalanan pun dilanjutkan. Benar
kata orang “Keindahan itu akan dicapai setelah melalui jalan yang berliku”.
Terperanjat lagi saya dengan mulut sedikit ternganga melihat kreasi indah Sang
Maha Pencipta ketika sampai di pantai yang jalan kesananya harus melewati semak
belukar dan hutan walaupun bisa dilalui oleh kendaraan bermotor. Belum lagi
habis rasa takjub, menaiki sedikit gundukan berpasir terpampang jelas keindahan
pasir putih dari pantai Pasie Mata Ie. Hampir
khilaf saja dan ingin menceburkan diri, sukurnya teringat kalau tidak bawa baju
ganti. Berulang kali saya seolah merasakan masuk ke dalam dunia sendiri tanpa
memperdulikan yang lain. Pikiranpun semakin liar dengan membayangkan seandainya
saya memiliki pintu kemana saja-nya Doraemon yang bisa menghubungkan antara
rumah dan pantai eksotis ini, seandainya saya memiliki kerajaan disini dan
pantai ini menjadi tempat pertemuan dengan kolega-kolega kerajaan untuk membicarakan
kerjasama dalam berdagang, dan seandainya saja itu semua bukan khayalan.
![]() |
| Pasie mata ie |
Satu harian itu kami lalui dengan
menyusuri seluruh wilayahnya tanpa ingin menyisakan satu tempat pun untuk tidak
tersentuh oleh jejak kaki kami. Dan tentunya rasa syukur saya yang begitu besar
atas kesempatan yang diberikan untuk menjadi saksi Maha Karya tersebut. Di
pulau ini phobia terhadap ketinggian yang saya miliki menjadi sirna, di tempat
ini percikan surga dunia begitu nyata terasa, ditempat ini saya merasa begitu
dekat dengan sang pencipta.
![]() |
| penampakan dasar lautnya |
***
Setelah memastikan tidak ada
barang yang tertinggal, kami pamit dengan pemilik rumah pagi itu. Langsung
menuju pelabuhan yang jaraknya hanya satu menit dari tempat kami menginap,
setelah sarapan seadanya di kedai yang tak jauh dari pelabuhan, saya melihat
beberapa pawang kapal yang sedang mengobservasi keadaan laut lepas, karena dari
beberapa hari sebelumnya angin terasa sangat kencang.
Hal itu kembali membuat saya
merasa was-was. Awalnya kapal diprediksikan tidak ada yang berangkat, tapi
karena banyaknya penumpang yang ingin balik ke Banda Aceh akhirnya kapal
berangkat juga sekitar pukul 11.00 WIB. Baru dua menit perjalanan terasa lagi
goncangan-goncangan kapal yang mengelak dari terjangan ombak. Seperempat
perjalanan, tepat di depan mata ombak yang begitu tinggi seperti tsunami sedang
mengejar kapal kami. Yang membuat keadaan semakin dramatis adalah ketika
melihat ibu-ibu yang berasal dari pulau tersebut menangis histeris, dan ketika
ada salah satu Bapak yang sepertinya sengaja mendatangi Bang Ucok, serta duduk
disampingnya berkata “gak usah takut, kalau kapal ini tenggelam kita bakal mati
semua, dan percuma kamu pakai pelampung, bakal tenggelam juga karena orang lain
pasti bakal merebut pelampung yang kamu pakai”. Tanpa pikir panjang langsung
saya keluarkan handphone dan mengetik permintaan maaf untuk orang tua. Disitu
saya sudah mengira-ngira, apabila kapal ini tenggelam, saya punya waktu 1 menit
untuk mengirimkan sms tersebut sebelum loncat ke laut.
![]() |
| ombak besar yang seolah mengejar kapal |
Perjalanan semakin menegangkan
ketika mesin kapal dikecilkan dan kapal dibiarkan terombang-ambing mengikuti
ombak di laut, hampir sekitar 3 jam kami merasakan bagaimana terombang ambing
di laut sampai akhirnya saya melihat dermaga yang membuat hati sedikit lega.
Sampai di pelabuhan, dengan kaki gemetar yang tidak dapat disembunyikan, saya
menunggu semua orang turun dari kapal, setelah itu baru menyusul. Perjalanan
yang memacu adrenalin itu akhirnya bisa dilewati dengan rasa yang semakin
takjub terhadap Sang Maha pencipta.
Dan… semua masih terasa seperti
mimpi.
Banda Aceh, 15 April 2016
Pocket Tour and Travel
Mobile/Wa : 082362235158
Email: pockettourtravel@gmail.com
fanpage pocket tour and travel





